Ayah yang Penasaran
Ayah yang Penasaran
Seorang ayah berkunjung
ke rumah anaknya yang akan menikah beberapa hari lagi. Meskipun sudah tua,
namun si ayah masih kuat bantu-bantu mempersiapan hari perkawinan anaknya. Setelah tiba saatnya hari yang
ditunggu-tunggu. Begitu banyak para tamu undangan yang datang ke pesta itu, ayah
terlihat sibuk menerima tamu yang datang. Setelah agak malam, tamu undangan
mulai sepi, ayah merasa sangat letih dan ingin beristirahat.
Sayangnya, rumah anaknya
itu terlalu sempit oleh para sanak family dan barang-barang keperluan hajatan.
Sehingga hanya ada satu kamar di rumah itu yang kosong, dan itu adalah kamar mempelai
wanita. Sempat terlintas dibenak ayah untuk beristirahat di kamar mempelai
wanita itu.
Lalu ia pun masuk ke
kamar yang indah itu lalu tiduran. Namun terasa ada yang mengganjal di
bawahnya, setelah dilihat, ternyata itu adalah dompetnya sendiri. Kemudian
dompet itu ia ambil dan diletakkan ke atas meja yang ada di dekatnya.
Sungguh sial, baru
istirahat sebentar, ia mendengar suara kedua mempelai wanita yang ingin
memasuki kamar tersebut. Tentu saja ayah sangat kaget. Ia khawatir dan merasa
tidak enak jika anaknya tahu ayah ada dikamar itu.
Si Ayah tersebut segera
bersembunyi dibawah ranjang mempelai wanita dan berharap bisa segera keluar
tanpa sepengetahuan anaknya itu. Begitu mempelai wanita masuk, pintu ditutup
dan dikunci dari dalam. Keduanya pun mulai pemanasan dengan rayuan-rayuan
gombal.
"Neng, mas boleh nanya gak?"
"Boleh dong mas, mau tanya apa?"
"Idung neng kok mancung amat, punya siapa sih?"
"ya punya neng dong!"
"Boleh gak buat mas?"
"Hmm.. Boleh deh"
"Kalo bibir neng yang manis itu, boleh juga buat mas?"
"Boleh mas, pokoknya sekarang semua yang neng miliki boleh mas
minta!"
"Ah yang bener, Ee.. anu.. anu.."
"Anu apa mas?"
"Anu... Ee.. itu... dompet diatas meja itu boleh buat mas juga
gak?,"
Belum sempat mempelai wanita wanita menjawab, terdengar suara seorang
pria yang sangat keras. "Jangan! itu dompet ayah.!!"
Sumber: http://ceritalucu.serbalucu.com
Komentar
Posting Komentar